The 2nd Chapter

Kami memang sudah kehilangan bab 1, tapi kami tidak akan pernah kehilangan jalan ceritanya..

Rasa-rasanya itulah hal paling tepat untuk menggambarkan apa yang sempat terjadi pada kami berdua. Bukan hanya kami secara personal, tapi…

***

Januari 2015

Langit Jogja sangat cerah Sabtu itu. Matahari bersinar terik dengan hanya sedikit balutan awan putih yang menggantung. Januari yang seharusnya masih menjadi puncak musim penghujan—karena sebab itulah banyak orang memelesetkan nama Januari menjadi hujan turun sehari-hari—nampaknya cukup baik pada kami dengan tidak menurunkan hujannya.

Melihat belum adanya tanda-tanda akan turun hujan, dikuatkan dengan prakiraan cuaca yang kami baca, muncul ide untuk menghabiskan hari di pantai. Di musim hujan seperti ini, kunjungan ke pantai adalah barang mewah. Bukanlah ide yang bagus untuk bersenang-senang di bawah guyuran hujan. Alih-alih senang, rencana yang sudah disiapkan bisa saja batal dan berantakan.

Beberapa opsi pantai sempat kami bahas, namun masih belum menghasilkan kesepakatan. Menjelang siang, kami sadar kami harus segera berangkat atau kami tidak akan bisa berangkat sama sekali. Kami hanya sepakat bahwa kami akan mengunjungi pantai yang ada di Kabupaten Gunung Kidul, Yogyakarta. Selebihnya akan kami bahas sepanjang perjalanan.

Perjalanan ke arah pantai di Gunung Kidul adalah salah satu jalur favorit kami. Hamparan tebing dan pepohonan sepanjang perjalanan jelas merupakan barang mahal yang tidak bisa kami temui sehari-hari. Belum lagi, kami bisa melihat pantai dari atas bukit jika kebetulan jalan sedang menanjak dan pandangan kami bebas ke arah laut. Angin pantai pun sudah bisa kami rasakan berkilometer-kilometer jauhnya sebelum kami mencapai pantai. Bersyukur, itulah yang selalu saya rasakan ketika bisa mencapai tempat seperti ini dengan jarak tempuh yang tidak terlalu jauh.

Gunung Kidul dikenal dengan pantainya yang indah—setidaknya untuk wilayah DIY—dengan pasirnya yang kebanyakan berwarna cerah, berbeda dengan pantai-pantai yang ada di Kabupaten Bantul maupun Kabupaten Kulon Progo yang pasirnya berwarna sangat gelap. Pantai di Bantul lebih dikenal karena legendanya, sedangkan pantai di Kulon Progo lebih dikenal karena pemecah ombaknya. Hal lain tentang Gunung Kidul yang juga menarik adalah masih banyaknya unexplored spots di Gunung Kidul, yang artinya akan muncul tempat wisata lain di Gunung Kidul di masa mendatang.

Pantai-Somandeng-Januari-2015
Pantai Somandeng, Januari 2015

Hasil diskusi kami sepanjang perjalanan akhirnya menuntun kami ke Pantai Somandeng, sebuah pantai yang masih relatif sepi yang letaknya berada di sebelah barat Pantai Indrayanti. Pasir yang berwarna cerah dan tebing di sisi timur pantai membuat kami berlama-lama duduk di sini. Tidak terlalu jauh ke arah laut, kami bisa dengan mudah menemukan bagian pantai yang tidak berpasir, namun terdiri dari kombinasi yang cantik antara tumbuhan, karang dan binatangnya. Jika masih ingat dengan pelajaran IPA semasa SD, lemparkan saja sebuah bingkai kayu ke sembarang arah dan lakukan observasi terhadap indahnya ekosistem yang ada di dalam bingkai itu.

Sepertinya kami belum pernah menceritakan ke siapapun sebelumnya, tapi di pantai inilah kami pertama kali punya gagasan untuk mendokumentasikan setiap perjalanan kami, bukan hanya sekedar dokumentasi berupa foto, namun juga video dan tulisan.

Semua berawal dari kesalahan yang kami buat sendiri, kami yang bermaksud berfoto bersama dengan mengaktifkan fasilitas timer yang ada di kamera ponsel, namun malah menekan tombol rekam pada mode video tanpa sadar. Segera setelah kami menyadari dan melihat hasil kesalahan itu, kami pikir kenapa tidak kami sengaja sekalian saja kesalahan ini? Kami retake sebuah video yang kemudian menjadi sejarah bagi kami berdua dalam membangun Tripvenia.

Video ini bahkan sudah dipublikasikan sebelum kanal Tripvenia kami buat.

***

Januari 2016

Time flies..

Pada tahun pertama Tripvenia, kami sudah bisa memproduksi konten walaupun jumlahnya belum terlalu banyak. Sayangnya, kecuali video, konten-konten tersebut sudah tidak bisa diakses lagi di situs ini (untuk video, silakan akses di kanal YouTube Tripvenia). Semua hilang bersamaan dengan lenyapnya hosting* yang kami sewa.

Kejadian berawal ketika setengah tahun terakhir ini, fokus dan pikiran saya tertuju pada pembuatan tesis, sehingga kami berdua benar-benar tidak sempat piknik, apalagi sampai produksi konten. Saat itu (dan sampai saat tulisan ini dibuat), saya memang tengah berusaha menyelesaikan program magister yang saya ambil sejak pertengahan 2013 lalu di UGM. Masalah mulai bermunculan ketika saya selalu mencari alasan pembenar untuk tidak segera menyelesaikan tesis yang seharusnya bisa selesai di tahun 2015. Nyatanya, rekan seangkatan saya hampir semuanya lulus di tahun 2015.

Akhir caturwulan pertama di tahun 2015, saya yang masih belum mulai mengerjakan tesis ini mencoba untuk melakukan prediksi tentang berapa lama lagi saya bisa lulus, tentunya dengan mempertimbangkan banyak variabel yang berpengaruh. Hasilnya, saya (nyaris) mustahil bisa lulus tahun itu juga!

Deg! Jantung serasa berhenti ketika melihat hasil perhitungan yang sudah saya ulang berkali-kali, namun tetap menghasilkan jawaban yang sama.

Setelah sempat didera frustasi dan pergolakan yang cukup panjang, pada Agustus 2015 saya akhirnya memutuskan untuk keluar dari pekerjaan saya dan benar-benar memfokuskan diri untuk menyelesaikan tesis yang terbengkalai. Akibatnya, banyak hal yang kemudian saya korbankan, sengaja maupun tidak.

Hal utama yang saya korbankan adalah keputusan untuk keluar dari pekerjaan itu sendiri, yang menurut beberapa sahabat saya, sangat sayang rasanya jika harus saya lepaskan. Tentunya keputusan ini tidak saya ambil secara impulsif, saya sudah memikirkan dengan matang dan berdiskusi dengan orang-orang terdekat saya tentang berbagai kemungkinan resiko yang harus saya hadapi.

Too risky? Sure it is, but what is a life without a little risk? If you want it, take a risk. Don’t always play it safe or you’ll die wondering.

Harga lain yang harus saya bayar adalah hilangnya konten di Tripvenia.com. Sebabnya sepele, saya lupa untuk memperpanjang tagihan biaya sewa hosting yang seharusnya saya lakukan beberapa bulan lalu. Memang, saya sudah mendapatkan pemberitahuan dari pihak provider melalui email, namun pemberitahuan ini hanya sekedar menjadi informasi yang lewat begitu saja tanpa saya saring urgensinya simply because I marked all unread messages as read messages. Setelah beberapa bulan tidak menyempatkan diri membuka email, ribuan pesan yang ada di kotak masuk bukanlah hal yang menarik untuk dibaca satu per satu, apalagi kebanyakan dari email masuk tersebut adalah promosi.

Sebagai catatan, saya memiliki banyak akun email yang saya bagi berdasarkan kebutuhan penggunaannya. Setidaknya, saya membaginya menjadi dua jenis kebutuhan utama. Jenis yang pertama adalah akun email yang saya gunakan untuk berkirim pesan, dan jenis yang kedua adalah akun email yang hanya saya gunakan untuk registrasi di berbagai macam situs. Di akun jenis kedua inilah saya mendapatkan pemberitahuan bahwa saya harus segera membayar biaya perpanjangan masa sewa jika tidak ingin seluruh konten di dalamnya dihapus–yang akhirnya tidak saya baca–dan hal ini baru saya sadari di Januari 2016.

***

The 2nd Chapter

Finally, everything paid off..

Februari 2016, setelah melalui beberapa tahapan ujian yang menguras emosi, akhirnya saya dinyatakan lulus dan mendapatkan gelar baru. Walaupun masih terdapat beberapa hal terkait pemberkasan yang harus saya selesaikan, namun jelas saya sangat bersyukur bahwa semua tugas di perkuliahan saya sudah hampir sampai di garis finish.

Ujian-Pra-Pendadaran
Thesis Defense

Pikiran saya melayang mengingat kembali masa-masa perjuangan yang sudah saya jalani. Pagi-pagi sekali, saya datang ke perpustakaan pusat UGM untuk mengerjakan tesis, dan baru pulang malam harinya. Tidak jarang pula saya harus diusir oleh penjaga perpustakaan karena melewati jam batas kunjungan. Hal ini selalu saya lakukan setiap hari semenjak saya meninggalkan pekerjaan sampai akhirnya saya harus mempertahankan penelitian saya di depan dewan penguji, ya sekitar setengah tahun itu lamanya.

Hal buruk dari rutinitas itu adalah tingginya tingkat stres yang berpengaruh ke pola makan yang menjadi sangat tidak teratur. Saya hanya makan jika saya memang sudah benar-benar sudah merasa lapar. Selebihnya saya hanya minum air putih. Dalam satu hari, saya hanya makan maksimal dua kali, dan itu berarti tidak jarang saya hanya makan satu kali sehari. Jangan tiru hal ini. Akibat yang terjadi adalah berat badan saya berkurang cukup banyak dan cukup noticeable oleh keluarga dan teman-teman saya (ini bukan soal diet dan menguruskan badan, lho!). Hal buruk lain yang terjadi adalah perut saya menjadi sangat sensitif. Saya yang dulunya penggemar pedas, sekarang tidak lagi bisa makan pedas walaupun hanya sedikit. Sekali lagi, jangan pernah tiru hal ini.

Setelah masa-masa kritis saya lalui, saya mencoba untuk membuka email saya yang rasanya sudah cukup lama tidak saya akses. Saya coba baca sekilas beberapa subjek dari daftar unread messages, dan salah satunya menarik perhatian saya. Isinya adalah pemberitahuan bahwa domain** Tripvenia.com akan segera habis masa sewanya. Ini artinya saya harus segera mengambil keputusan, apakah akan diperpanjang atau tidak.

Saya teringat kembali tentang Tripvenia, tentang apa saja kenangan yang pernah kami lalui, yang akhirnya membuat saya tercenung dan berpikir, sudah saatnya kami menghidupkan kembali Tripvenia yang sempat mati suri, apalagi di bulan kedua tahun ini, Tripvenia.com memasuki usia keduanya. Setelah melalui diskusi panjang, kami berdua pun akhirnya sepakat untuk memberikan kesempatan kedua untuk proyek ini, setelah nyaris kehilangan semuanya, tepat dua hari sebelum masa sewa domain Tripvenia.com habis.

This is what inspire us to write our 2nd chapter..

***


*Hosting (disebut juga Web Hosting / sewa hosting) adalah penyewaan tempat untuk menampung data-data yang diperlukan oleh sebuah website dan sehingga dapat diakses lewat Internet. Data disini dapat berupa file, gambar, email, aplikasi/program/script dan database (IdeBagus.com, diakses pada 15 Februari 2016).

**Domain adalah nama unik yang diberikan untuk mengidentifikasi nama server komputer seperti web server atau email server di jaringan komputer ataupun internet (Wikipedia, diakses pada 15 Februari 2016). Sama seperti hosting, domain harus tetap diperpanjang masa sewanya jika masih ingin digunakan.