Bali Ndeso di Warung Kendi

Buzz.. buzz..

Buzz.. buzz..

Beberapa hari terakhir, salah satu grup obrolan yang saya ikuti menjadi sedikit lebih ramai dibandingkan dengan hari-hari sebelumnya. Notifikasi datang terus menerus tanpa jeda, persis seperti serbuan panah di adegan fight in the shade-nya film 300. Oke, tidak sedramatis itu memang, but still. Sempat saya hitung, hanya dalam tiga jam, jumlah obrolan yang muncul hampir menyentuh angka lima ratus. Saya buka grup obrolannya. Bukan untuk diikuti obrolannya, tapi hanya sekedar untuk menghilangkan notifikasi.

Aku otw ke tkp..

Satu pesan lagi muncul, namun kali ini datang dari grup obrolan lainnya yang berjarak satu usapan layar dari grup obrolan sebelumnya. Siang itu, saya dan beberapa teman memang berencana untuk kumpul-kumpul; duduk manis sambil menikmati es teh dan sego lodeh dengan obrolan selingan yang membahas apa saja. Mulai dari perkembangan kasus Saipul Jamil yang konon katanya sekali buka langsung hap, atau selentingan kabar tentang si Surti yang batal kawin dengan si Tejo.

Bagi kami, tiada lagi tempat yang lebih cocok untuk menuntaskan hasrat ini selain di Warung Kendi.

Warung-Kendi
Papan nama di depan warung

Berbeda dengan tempat lain yang mencoba memasukkan nuansa jawa, kuno, ndeso dan sejenisnya, namun menggunakan berbagai macam perabotan dan furnitur yang mengkilap nan megah, Warung Kendi tampil apa adanya dengan memanfaatkan pernak-pernik yang benar-benar ndeso. Bangunannya berupa limasan yang menggunakan kayu yang biasa digunakan di rumah-rumah yang ada di pelosok pedesaan. Alami, tanpa pelitur dan pernis serta beberapa bagian yang terlihat sudah dimakan rayap. Dindingnya pun hanya menggunakan gedhek atau anyaman bambu yang warnanya sudah serupa dengan kayu penyangga bangunan. Tidak hanya itu, meja dan kursi yang digunakan pun sangat menyatu dengan konsep bangunannya.

Suasana-Warung-Kendi2
Suasana Warung Kendi di siang hari

Di sini, pengunjung juga tidak akan disambut dengan pelayan berkemeja, lengkap dengan dasi kupu-kupunya, yang ketika ada pengujung datang, mereka akan langsung sigap mencarikan meja kosong sembari menyerahkan daftar menu. Sebaliknya, pelayan di sini hanyalah mas-mas dan mbak-mbak berkaos sak-sak e yang seringkali tidak berada di satu-satunya pos yang tersedia, meja kasir. Untuk mencari pelayan jika memang pelayan tidak berada di tempat, pukul saja kentongan yang tergantung di depan meja kasir, niscaya mereka akan segera melongok dan berbicara kepada sesama mereka, “iki sing dadi kasir sopo saiki?”–yang jadi kasir giliran siapa sekarang?

Pengunjung yang tidak terbiasa dengan standar pelayanan di sini–atau baru pertama kali berkunjung–mungkin akan merasa jengkel pelayan yang terkesan sakpenake dewe. Tapi buat saya, inilah konsep yang sedang dibangun dan dijadikan branding oleh Warung Kendi. Pelayanan yang apa adanya tanpa membedakan kasta pelayan dan pengunjung.

Suasana-Warung-Kendi3
Bagian dalam Warung Kendi
Suasana-Warung-Kendi4
Meja kasir terletak di sebelah etalase kaca

Penggunaan kata ‘kendi’ pada nama Warung Kendi juga bukan hanya sekedar nama. Warung yang terletak di kampung Soropadan, Condong Catur, Sleman, Yogyakarta ini melengkapi setiap meja dengan sebuah kendi. Kendi ini pun bukan hanya sekedar aksesoris atau pemanis belaka, namun berisi air putih yang bisa diminum oleh pengunjung. Jika habis, minta saja ke pelayan untuk mengisinya kembali.

Bagi yang sudah pernah meminum air langsung dari kendi, ada sensasi unik yang bisa dirasakan, yaitu airnya yang terasa dingin sejuk. Fenomena ini sama sekali bukanlah fenomena mistik (jika ada yang berpikiran demikian), namun dapat dijelaskan dengan sains dengan penjelasan kurang lebih sebagai berikut:

Kendi terbuat dari tanah yang akhirnya membuat kendi memiliki pori-pori di permukaanya. Air di dalam kendi akan merembes kemudian menguap melalui pori-pori ini. Kita tahu dalam proses penguapan memerlukan kalor (panas) yang tentu saja harus diperoleh dari lingkungan sekitar termasuk di bagian dalam kendi. Karena kalornya diambil maka air di dalam kendi akan lebih dingin. – Dongeng Geologi

 

Kendi2
Kendi yang menjadi ikon khas dari tempat ini

Salah satu bagian favorit saya di Warung Kendi adalah harga yang sangat murah jika dibandingkan dengan cafe atau tempat nongkrong lain yang ada di wilayah Yogyakarta. Cek saja daftar menu pada foto di bawah ini, makanan paling mahal pun harganya hanya Rp10.000,-. Begitu pun dengan minumannya, walaupun ada yang seharga Rp12.000,-, namun kebanyakan harga minuman berada di rentang harga antara Rp4.000,- sampai Rp7.000,-.

Walaupun harga makanan dan minumannya sangat murah, namun Warung Kendi tetap memberikan fasilitas standar seperti yang diberikan di tempat lain, yaitu akses internet gratis melalui wifi. Sayangnya, akses wifi di sini kurang begitu bisa diandalkan. Sejauh pengalaman saya, lebih sering putusnya daripada nyambungnya ?. Yah, kata orang, “ono rego ono rupo“. Apa lagi yang ingin dicari dari harga makanan dan minuman yang sudah sangat murah ini?

Daftar-Menu
Daftar menu. Murah bukan?

Jika saya boleh sedikit hiperbolis, saya akan mengatakan bahwa Warung Kendi ini adalah bentuk perlawanan David terhadap Goliath. Bagaimana tidak, Warung Kendi yang menawarkan suasana kesederhanaan ini berdiri tepat di belakang pusat perbelanjaan megah yang konon katanya terbesar di DIY-Jateng. Di tengah gencarnya arus pembangunan mall dan hotel di Jogja (yang tentu saja menuai kritik tajam dari sebagian masyarakat), Warung Kendi mampu membuktikan bahwa kesederhanaan dan kearifan lokal bisa tetap hidup dan bertahan. Mirip dengan apa yang dialami Carl Fredricksen di film Up sebelum akhirnya memutuskan untuk menerbangkan rumahnya.

Bicara soal dunia perfilman, mumpung masih anget, saya ingin mengucapkan selamat untuk Kang Mas Leo yang akhirnya bisa memenangkan Piala Oscar setelah bertahun-tahun di-php-in terus. Kalau saya yang jadi sampeyan, mungkin saya sudah mutung dari kemarin-kemarin dan nggak mau datang waktu malam penganugerahan.

Sakit, mas.. Sakit..

Gapura-Warung-Kendi
Bangunan tinggi di belakang gapura Warung Kendi ini adalah mall yang belum selesai proses pembangunannya

Tidak terasa hari menjadi semakin gelap dan obrolan kami pun semakin seru. Cangkir demi cangkir kami nikmati sembari menyelami pikiran lawan bicara melalui opini dan gagasan yang terus terlontar. Namun tetap saja banyak hal yang terus mengganjal di pikiran saya. Tingginya biaya sewa tanah (dan bangunan) di wilayah ini, besarnya pajak yang harus dibayar hingga pegawai yang harus terus digaji. Semuanya bermuara pada satu pertanyaan, akankah tempat ini bisa terus mempertahankan hidupnya? Sama seperti Kang Mas Leo yang harus memakan daging mentah-mentah demi bertahan hidup di film yang sukses mengantarkannya meraih Piala Oscar, The Revenant.

Entahlah.

Buzz.. Buzz..

Buzz.. Buzz..

Sebuah notifikasi muncul, mengingatkan saya bahwa ada agenda lain yang harus segera saya lakukan. Saya pun pamit.


Detail Informasi

[table th="0"]
"Nama Tempat", "Warung Kendi"
"Alamat", "Jl. Kaliwaru Raya, Soropadan, Gejayan, Yogyakarta"
"No. Telp.", "-"
"Website", "-"
"Facebook", "-"
"Twitter", @WarungKendi
"Instagram", "-"
[/table]

[wp-review id=”129″]