Touring JIMO (Jogja Istimewa Max Owners) ke Ambarawa

Tripvenia is back!

Setelah sangat lama tidak ada konten Ayo Mblayang! baru yang diunggah di channel YouTube Tripvenia (konten terakhir tercatat pada 20 September 2015), akhirnya Tripvenia berkesempatan kembali untuk membuat konten baru. Perjuangan beberapa bulan lalu akhirnya lunas dengan posisi baru yang sudah saya dapatkan saat ini dan kami bisa kembali mblayang untuk menbuat konten-konten baru.

Kali ini, Tripvenia bergabung dengan rekan-rekan dari JIMO (Jogja Istimewa Max Owners)–komunitas pengguna Yamaha Max series dari Yogyakarta–untuk touring dari Yogyakarta menuju Ambarawa.

Istilah touring sendiri banyak digunakan untuk merujuk pada aktifitas berkendara (baik roda 4 maupun roda 2) secara rombongan oleh suatu komunitas untuk menyalurkan kegemaran dalam berkendara.

Touring ini dilakukan pada hari Minggu, 4 September 2016 yang lalu dengan titik kumpul SPBU Jl. Magelang (utara Terminal Jombor). Rombongan akhirnya berangkat pada pukul 8:30 setelah sebelumnya direncanakan akan berangkat pada pukul 08.00.

Sebelum berangkat, panitia memberikan briefing singkat tentang rute yang akan ditempuh dan aturan yang harus dipatuhi oleh para peserta. Rombongan kemudian dipecah menjadi dua grup kecil agar tidak terlalu memadati lalu lintas. Di dalam masing-masing grup kecil tersebut, minimal terdapat dua orang yang bertugas untuk mengawal grup kecil tersebut. Satu orang di posisi paling depan sebagai Road Captain (RC) dan satu orang di posisi paling belakang sebagai seorang Sweeper (SW).

Secara sederhana, seorang RC bertugas untuk memilih rute yang akan dilewati, menentukan formasi barisan berkendara serta menentukan rest poin atau lokasi istirahat. Sedangkan SW bertugas untuk mengawal rombongan dan memastikan tidak ada peserta touring yang tertinggal dari rombongan.

Sebenarnya, dalam sebuah rombongan touring, masih ada beberapa petugas lain, yaitu Safety Officer (SO), Technical Officer (TO), Medical Officer (MO) dan Vorijder (VO), namun tidak akan saya bahas di tulisan ini.

Foto bersama sebagian peserta touring
Foto bersama sebagian peserta touring sebelum berangkat.

Magelang sebagai rest point pertama

Magelang sebenarnya belum terlalu jauh dari Jogja, namun kota ini dijadikan rest point pertama setelah sebelumnya disepakati bahwa rombongan akan sarapan terlebih dahulu di daerah yang dijuluki Kota Seribu Bunga ini.

Mungkin sudah ada yang pernah dengar tentang sop empal Bu Haryoko? Di sanalah rombongan berhenti sejenak untuk sarapan. Sebuah warung kecil–namun ramai–di bilangan Muntilan, salah satu kecamatan yang ada di Kabupaten Magelang. Saya baru pertama kali ini datang ke sana, dan ketika mencicipinya, rasanya memang nikmat. Rempah-rempah yang digunakan benar-benar meresap dan tekstur dagingnya lembut. Walaupun harus antri dan berdesak-desakan, namun tetap worthed lah.

Setelah selesai sarapan, rombongan kemudian melanjutkan perjalanan.

Objek wisata pertama: Eling Bening Resort

Objek wisata pertama yang dituju adalah Eling Bening, sebuah resort yang terletak di wilayah Ambarawa. Dari tempat ini, kita bisa melihat rawa pening menghampar sejauh mata memandang. Sebenarnya tempat ini mengasyikkan, tapi sayang sekali tidak bisa benar-benar menikmatinya. Kami tiba di tempat ini sekitar pukul 12.15 siang, saat matahari sedang terik-teriknya. Alhasil, yang saya lakukan hanyalah sekedar mencari tempat untuk berteduh.

Okay, nothing memorable at this moment. Lain waktu saya harus datang lagi ke tempat ini.

Foto bersama di Eling Bening
Foto bersama di Eling Bening.

Lokasi Eling Bening bisa dilihat pada peta berikut ini:

Objek wisata kedua: Jembatan Biru Rawa Pening

Setelah puas di objek wisata pertama, rombongan bertolak menuju objek wisata kedua, yaitu Jembatan Biru Rawa Pening. Sesuai namanya, di lokasi ini terbentang sebuah jembatan berwarna biru yang memanjang di Rawa Pening. Jika di Eling Bening kita hanya bisa melihat Rawa Pening dari kejauhan, maka di Jembatan Biru ini kita benar-benar berada di Rawa Pening.

Di tempat ini, terdapat persewaan perahu yang dikelola oleh masyarakat setempat untuk wisatawan yang ingin mengelilingi Rawa Pening. Bergantung pada luas area, tarif yang dipatok untuk menyewa perahu berkisar antara Rp30.000 hingga Rp150.000.

Pernah mendengar tentang kereta wisata di Ambarawa? Nah, Jembatan Biru adalah salah satu spot yang dilewati oleh kereta wisata ini. Di video yang saya tampilkan di bawah, saya sempat merekam kereta wisata yang sedang melintas di area ini.

Saya & Septi; Jembatan Biru Rawa Pening
Saya, Septi dan kamera kesayangan di Jembatan Biru Rawa Pening.

Lokasi Jembatan Biru bisa dilihat pada peta berikut ini:

Objek wisata ketiga: Desa Cuntel Kopeng

Sebelum menuju lokasi ketiga, terus terang saya sempat underestimate, apa sih yang bagusnya sebuah desa hingga harus menjadi sebuah tujuan wisata? Bagaimanapun juga, saya ini juga wong ndeso, yang kurang lebih tahu hal apa saja yang ada di desa (yang ada di daerah Yogyakarta). Sebelumnya, saya memang belum sempat mencari informasi tentang Desa Cuntel yang akan dijadikan tujuan wisata.

Keyakinan saya nampaknya harus dipatahkan oleh apa yang kemudian saya lihat sendiri. Setelah saya cari tahu melalui beberapa rekan rombongan, saya baru tahu bahwa Desa Cuntel adalah desa terakhir sekaligus basecamp menuju Gunung Merbabu melalui Kopeng.

Rombongan tiba di tempat ini menjelang pukul 16.00, sudah cukup sore dan kabut mulai turun. Sebagai wong ndeso yang di ndesonya tidak pernah ketemu kabut, pengalaman ini adalah sebuah pengalaman yang sangat berharga. Saya bisa melihat bagaimana kabut turun perlahan-lahan hingga menutupi sebagian besar pandangan. Selain itu, pemandangan Desa Cuntel yang terletak di 1610 MDPL ini sangat luar biasa dan tidak bisa saya temui di kampung saya.

Ah, benar-benar memorable.

Keseluruhan rombongan touring
Keseluruhan rombongan touring. Lokasi: Desa Cuntel Kopeng.

Lokasi basecamp Desa Cuntel bisa dilihat pada peta berikut ini:

Last, video perjalanan touring sudah diunggah di kanal YouTube Tripvenia. Silakan dinikmati. Jika tidak bisa dibuka, silakan buka tautan ini.